Wednesday, April 29, 2009

Resensi Buku PengantarAntropologi

Resensi Buku

Judul:

Pengantar Antropologi

Penulis:

Simon Coleman dan Helen Watson

Penerjemah:

Lala Herawati Dharma

EditorMathoni A Elwa
Penerbit
Nuansa, Komp. Cijambe Indah Jl. Vijaya Kusuma II/E-06

Ujungberung-Bandung 40619Tahun Terbit2005
Halaman
191

Antropologi merupakan sebuah subyek yang sangat hidup dan terus berkembang, yang merangsang intelektual sekaligus memberikan banyak informasi berharga bagi para pekerja bidang pengembangan, organisasi-organisasi pembangunan dan para pembuat kebijakan di seluruh dunia. Antrapologi berkembang mengikuti perkembangan zaman, sehingga kajian ilmu antropologi mencakup hal yang sangat luas. Dalam mengkaji ilmu Antropologi seseorang perlu membaca berbagai literatur buku, salah satu buku yang menarik untuk dipelajari adalah karya dari Simon Coleman dan Helen Watson, dalam buku yang berjudul pengantar Antropologi ini mencakup kajian Antropologi yang meliputi: makna Antropologi, Perkembangan Antropologi, Metode-Metode Antropologi, Praktik-Paktik Antropologi, Antropologi di tengah perkembangan zaman.

Dalam buku ini Simon Coleman dan Helen Watson mengkaji Antropologi dari berbagai sudut pandang, pada bab awal Simon Coleman dan Helen Watson mengkaji makna Antropologi yang dimulai dari studi tentang manusia, dalam topik ini dijelaskan bahwa manusia di belahan dunia mempunyai mitos, ritual, sistem ekonomi, pola keluarga, dan bentuk-bentuk komunikasi politik yang khas dan unik. Dalam mempelajari kekhasan dan keunikan tersebut seorang ilmuawan perlu mengadakan pencatatan secara sistematis, hal-hal yang dicatat oleh ilmuwan meliputi: Antropologi fisik, Arkeologi, Antropologi Linguistik, Antropologi Budaya. Namun dalam buku yang ditulis oleh ini Simon Coleman dan Helen Watson pada halaman selanjutnya mengambil fokus pada antropologi sosial dan budaya, sehingga dalam buku ini kata Antropologi, berarti kajian menurut pandangan Antropologi Sosial dan budaya.

Pada bahasan berikutnya Simon Coleman dan Helen Watson mengkaji tentang perkembangan Antropologi, dalam kajian ini disajikan perkembangan Antropologi yang terjadi di belahan dunia yang mempunyai kekhasan dan keunikan masing-masing. Dalam masyarakat di komunitas tertentu ternyata telah ada pola pikir, untuk mulai berfikir tentang keyakinan-keyakinan mereka, dan kesadaran membandingkan diri mereka dengan masyarakat-masyarakat lain yang melakukan kontak dengan mereka. Dengan adanya perkembangan kajian Antropologi yang pesat diseluruh dunia, sehingga menjadikan Antropologi menjadi subyek akademis yang berdiri sendiri. Bahkan dengan munculnya Antropologi sebagai subyek akademis melahirkan pandangan-pandangan tentang asal mula kebudayaan seperti yang diungkapkan oleh George Stocking, Beliau adalah seorang antropologi sejarah dari Amerika yang mengadakan penelitian dengan membedakan perilaku banyak warga Inggris Victoria dengan masyarakat non Eropa dengan cara berikut:“ Meskipun posisi relatif dari berbagai bangsa biadab masih diperdebatkan karakteristik umum dari orang-orang biadab itu sudah jelas. Berkulit gelap dan berrubuh kecil, tidak menarik, tidak memakai pakaian dan kotor, melakukan seks bebas dan brutal terhadap kaum perempuan mereka, mereka menyembah roh yang menghidupkan binatang atau bahkan kayu atau batu“, pernyataan yang diungkapkan di atas bertentangan dengan keadaan sebenarnya pada kondisi lelaki Victoria yang berkulit putih, bersih, setia pada istri, dan menyembah satu Tuhan.

Gagasan di atas jelas menggambarkan evolusi budaya. Maka dengan adanya gagasan di atas mendorong ilmuwan untuk mengadakan penelitian secara ilmiah dan bukan lagi penjelasan teologi untuk memahami perbedaan perkembangan antara negara-negara dengan peradaban Barat pada masyarakat yang secara teknologi dan budaya dianggap primitif. Selain George Stocking ada seorang ilmuwan yang bernama Herbert Spencer, yang mengatakan bahwa semua makhaluk hidup termasuk masyarakat dan institusi, bisa dikategorikan dalam satu skala tunggal, mulai dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks. Gagasan dasar tentang evolusi budaya menyatakan bahwa masyarakat dan budaya berkembang mengikuti serangkaian tahapan yang bisa diduga secara teratur. Para ilmuwan berharap dapat mengembangan sebuah sains di dalam aturan-aturan universal tentang perilaku manusia dan menjelaskan tahap-tahap perkembangan tersebut.

Uraian di atas merupakan pandangan para ilmuwan antropologi yang telah melahirkan pandangan tentang evolusi kebudayaan manusia di belahan dunia. Namun adanya pandangan tentang evolusi kebudayaan melahirkan rekasi-reaksi dari para ahli yang mempunyai pandangan yang kontra, seperti yang diungkapkan Franz Boas yang mengatakan bahwa“ Sampai saat ini kita masih terlalu senang tingkah laku aneh yang cerdik. Kerja nyata masih di depan kita. Kesenangan yang dimaksud dalam pernyataan di atas adalah kesenangan dari banyak ahli evolusi, yang menurut Boas, riset mereka pada hakikatnya rasis dan hanya ditunjang oleh sedikit bukti saja. Pandangan Boas yang kontroversial tentang para ahli evolusi dan metode alternatifnya yang terbukti sangat mempengaruhi antropologi Amerika. Bagi Boas, Semua budaya adalah setara tapi berbeda, dan upaya-upaya untuk mengelompokkan mereka menurut teori evolusi yang ditetapkan lebih dahulu bukan saja menghina perkembangan sejarah mereka yang berbeda tetapi juga merupaken ilmu yang buruk. Para ilmuwan seharusnya menggunakan teknik-teknik yang kompleks untuk memahami sebuah kelompok tertentu, termasuk diantaranya menggunakan bukti arkeologi, memetakan penyebaran ciri-ciri budaya pada bangsa-bangsa yang bertetangga, dan dengan melakukan penelitian cermat tentang bahasa dan adat istiadat. Melalui karya tulis dan ajaran-ajarannya, ia mengembangkan sebuah “aliran sejarah“ dimulai dari daerah khusus dan kemudian berkembang ke wilayah-wilayah lain.

Pendapat yang diungkapkan oleh Boas telah meruntuhkan pandangan evolusi kebudayaan menurut para ahli evolusi dan pandangan Boas banyak diikuti oleh para ilmuwan lainnya karena pendapat Boas lebih realitis dalam memandang sebuah kebudayaan suatu komunitas.

Dalam buku yang ditulis oleh Simon Coleman dan Helen Watson ini setelah mengungkapkan perkembangan Antropologi juga mengkaji tentang metode-metode Antropologi. Dalam bahasan metode-metode Antropologi ini Simon Coleman dan Helen Watson mengungkapkan kisah-kisah pengalaman para ilmuwan dalam mencari data untuk memperoleh informasi yang valid tentang keadaan suatu komunitas, tidak jarang para ilmuwan tersebut menetap beberapa waktu ditempat penelitian demi memperoleh data lapangan yang benar-benar sesuai dengan keadaan sebenarnya. Tujuan para antropologi dalam melakukan penelitian adalah memberikan gambaran tentang organisasi sosial, keyakinan-keyakinan, dan nilai-nilai dalam satu kelompok masyarakat, mungkin itu sebuah desa, sebuah gereja, atau suku bangsa. Para ahli Antropologi ini bertindak sebagai perantara, mencoba menjelaskan pengalaman yang terkait dengan cara hidup seseorang dalam bahasa dan cara berfikir para pembaca atau pendengar.

Dalam melakukan penelitian para ilmuwan antropologi menggunakan metode-metode penelitian seperti terjun langsung ke lapangan untuk mengumpulkan data dan membuat kesimpulan. Dalam melakukan penelitian para antropologi sering menjadikan dirinya sebagai bagian dari masyrakat yang diteliti, sehingga dengan cara yang demikian seorang ahli antropologi dapat merasakan, mengalami sendiri ritual, adat istiadat serta mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat yang menjadi obyek penelitian. Selain itu seorang ahli antropologi juga harus membuat diskripsi hasil pengamatan yang dilakukannya pada suatu komunitas dengan menyusunnya dalam bentuk kalimat yang sesuai dengan penelitian lapangan yang telah dilakukannya Dalam mendiskripsikan suatu penelitian yang dilakukan seorang ahli antropologi seyogyanya menerapkan pendekatan riset yang sitematis dan obyektif.

Perkembangan antropologi yang pesat dari waktu ke waktu yang secara sadar maupun tidak sadar telah memunculkan paktik antropologi dalam suatu masyarakat, dalam buku ini Simon Coleman dan Helen Watson menjelaskan tentang pertalian keluarga dan hubungan sosial yang sebelumnya telah beranggapan bahwa umat manusia dipersatukan oleh warisan biologi yang sama. Karenanya, ahli anropologi adalah menganalisis perbedaan budaya yang dimulai dari beragam keyakinan, adat istiadat, dan bentuk-bentuk organisasi sosial yang teramati di tengah masyarakt modern. Dalam praktik antopologi ada istilah pertalian keluarga, yang dimaksud pertalian keluarga adalah ikatan sosial berdasarkan keturunan dan perkawinan ditetapkan, diperluas, dipalsukan, dimodifikasi, dilupakan, dan ditekan, bagaimana ikatan-ikatan tersebut terkait dengan manifestasi-manifestasi pribadi dan aksi sosial yang lain, definisi ini menurut Rodney Needham. Selain itu masih banyak definisi pertalian keluarga menurut para ahli lainnya. Pertalian keluarga mempengaruhi pada cara memindahkan status dan kepemilikan dari suatu generasi ke generasi berikutnya, pertalian keluarga juga berfungsi sebagai sarana mempertahankan diri kategori kelompok-kelompok sosial yang berbeda. Dalam praktik Antropologi akan ada penggolongan tertentu sebagai kerabat sehingga muncul istilah, merunut pertalian keluarga, sistem keluarga, marga dan garis keturunan langsung, pertalian keluarga yang fiktif, unit keluarga, aturan perkawinan, tujuan perkawinan, uang perkawinan. Adanya hubungan kekerabatan itu mempengaruhi kegiatan politis, hukum, dan ekonomi masyarakat, sehingga ini menimbulkan Anarki, dan ketertiban Antroplogi politik dan hukum. Para ahli antropologi biasanya membagi masyarakat-masyarakat manusia menjadi beberapa kategori utama, didasarkan pada bentuk-bentuk organisasi politik dan ekonomi mereka: Para pemburu dan pengumpul, masyarakat-masyarakat suku, masyarakat yang dipimpun kepala suku (CHIEFDOM), negara. Selain itu antropologi juga berkaitan dalam kegiatan ekonomi, karena dalam antropologi juga mengkaji ekonomi dari budaya lain, sehingga menimbulkan formalisme dan subtantivisme, sebuah perbedaan dalam tingkat, seperbedaan dalam bentuk, sistem-sistem produksi, produksi martabat, model produksi domestik, pendistribusian kembali dan tukar menukar, hadiah dan tukar menukar, cincin kula, hubungan-hubungan pertukaran, daerah tidak bertuan ekomoni. Uraian yang dikelaskan di atas adalah kajian antropologi yang berkaitan dengan ekonomi, selain berkaitan dengan ekonomi antropologi juga berkaitan dengan antropologi agama, dalam anropologi agama dikaji tentang agama sebagai sebuah bentuk penjelasan, agama sebagai ungkapan kehidupan kolektif, agama sebagai cara untuk mengesahkan masyarakat, agama sebagai sebuah kekuatan untuk protes dan perubahan.

Antopologi juga dapat digunakan sebagai cara-cara memandang dunia: kepribadian, persepsi dan budaya, namun semua bergantung pada sudut pandang dan reksi kita terhadap dunia yang dikendalikan oleh pengalaman-pengalaman budaya seperti pikiran dan bahasa. Dalam buku ini pembahasan tentang antropologi budaya dengan begitu lengkap, sehingga konsep relativitas: sebuah penelitan tentang waktu, Relativitas kepribadian: Benedict dan Mead yang mencakup tentang sifat-sifat pikiran yang mendunia.

Dalam buku ini ditutup dengan kajian antropologi di tengah perubahan dunia yang membahas tentang antropologi pembangunan lingkungan dimulai dari masyarakat yang paling primitif menuju ke masyarakat modern.

Kesimpulan

1 Dalam buku pengantar Antropologi karya Simon Coleman dan Helen Watson ini didefisinikan anttopologi sebagai sebuah subyek yang sangat hidup dan terus berkembang, yang merangsang intelektual sekaligus memberikan banyak informasi berharga bagi para pekerja bidang pengembangan, organisasi-organisasi pembangunan dan para pembuat kebijakan di seluruh dunia.

2 Dalam buku ini juga membahsan tentang makna antropologi, perkembangan antropologi, metode-metode antropologi, praktik-praktik antropologi, dan antropologi di tengah perubahan dunia.


0 comments:

Post a Comment

 

Skripsi KITA

Site Info

Antropologi, Budaya dan Sejarah Copyright © 2010 Akran Mogerz is Designed by Akran Mogerz for About Me