Saturday, March 26, 2011

Teori-Teori Evolusi

Antropologi Indonesia - Teori-Teori Evolusi *)
*)Tulisan ini diambil dari materi perkuliahan yang dibawakan oleh DR. Munsi Lampe, MA. Tahun dan tempat tidak diketahui.

Teori-teori dan pendekatan-pendekatan selalu ada dalam setiap cabang ilmu antropologi. Misalnya antropologi ekonomi yang memiliki teori-teorinya sendiri. Demikian pula dengan antropologi ekologi yang banyak memiliki teori-teori lanjutan dari positivisme evolusi. Di dalam ekonomi banyak teori lanjutan dari fungsionalisme, di dalam teori-teori perubahan kebudayaan, hubungan antar etnik banyak menggunakan teori-teori dari misalnya difusi. Sehingga yang membahas khusus teori memang kebanyakan adalah teori-teori besar, sedangkan teori-teori yang lebih kecil mengambil bagian-bagian atau sub-sub dari cabang-cabang antropologi sosial budaya. Sekarang kita membahas mengenai teori-teori evolusi kebudayaan. Kata kunci dalam teori evolusi adalah bahwa evolusi ingin menjelaskan mengenai fenomena atau gejala atau kejadian-kejadian terkait budaya manusia dengan kehidupan sosial budayanya. Melihat proses perubahan yang sangat lambat, pelan-pelan sekali bahkan sangat pelan, dari bentuknya atau tipenya yang sangat bersahaja. Dalam istilah orang eropa, primitif, sekarang kita tidak boleh menggunakan istilah tersebut karena itu menghina suatu kelompok masyarakat atau bangsa, menuju kepada bentuknya yang sekarang, yang lebih kompleks. Bukan lebih maju, karena bila demikian berarti ada yang tidak maju, padahal setiap kelompok suku bangsa merasakan saatnya, kondisinya pada saat itu sekarang atau di tempat lain bahwa inilah saat yang paling populer dan sempurna, karena dia bandingkan dengan masa sebelumnya yang dia alami. Jadi teori ini menjelaskan fenomena perkembangan, perubahan sosial budaya dari bentuknya yang sangat sederhana kepada yang lebih kompleks.
Kedua, kata kunci kedua ialah apa yang membuatnya berubah secara pelan-pelan adalah ada lingkungan ekologi. Karena mereka hidup dalam alam, sehingga kondisi cuaca, iklim, pegunungan, rawa, sungai, hutan, laut, danau dsb, kemudian manusia perlu hidup dari sumber daya yang disediakan oleh alam baik berupa flora dan fauna, yang merupakan lingkungan di mana manusia harus menyesuaikan diri. Kalau situasi cuaca panas, maka manusia berusaha agar keadaannya lebih sejuk, demikian pula bila kondisi dingin, maka manusia berusaha sarana dan prasarana yang dapat membuat mereka hangat. Keadaan seperti itu tidak bisa direvolusi, karena teknologinya masih sangat sederhana, karena itu membutuhkan ratusan ribu tahun untuk dapat maju sedikit saja, sehingga yang mengalami proses itu tidak pernah menyadari bahwa telah terjadi perubahan. Mengapa tidak dirasakan perubahan itu, karena satu generasi umurnya mungkin hanya 60 tahun. Sedangkan perubahan itu mungkin terjadi seratus tahun sehingga tidak dapat dirasakan. Karena itu hanya ide, teknologi hanya bertambah sedikit misalnya tombak yang lebih panjang, atau kualitas yang semula dari batu kemudian menjadi kayu dsb.
Teori evolusi sebenarnya bahan-bahannya tidak didapatkan dari penelitian yang dimaksudkan. Mereka hanya mengambil tulang-tulang yang kebetulan didapat, berupa tengkorak atau fosil yang kemudian disusun dan ditemukan bahwa ada alat yang bersahaja yang terbuat dari batu, dan ada yang lebih maju yang terbuat dari besi. Lalu disimpulkan bahwa melangkah dari bentuk sederhana ke bentuk yang lebih tinggi sedikit memakan waktu yang sangat lama, karena ada ahli arkeologi yang melakukan penggalian/eskafasi yang menemukan alat tertentu dalam suatu struktur tanah. Ada cara pengukuran tertentu untuk mengukur usia lapisan tanah yang terjadi selama ratusan tahun. Dari situ maka mulai dikronstruksi perubahan-perubahan. Inilah perbedaannya dengan penelitian sekarang di mana kita langsung turun ke lapangan mencari data, penelitain evolusi awal hanya menemukan tengkorak atau fosil peralatan manusia yang kemudian disusun dan dihubung-hubungkan dengan tengkorak tulang binatang yang dia konsumsi, lalu dianalisa bedasarkan “dugaan-dugaan”.
Lalu, teori ini merupakan aplikasi dari teori evolusi biologi. Teori evolusi biologi beranggapan bahwa ada perkembangan struktur tubuh manusia dari bentuknya paling sederhana sampai yang paling sempurna. Teori evolusi ada beberapa macam. Dalam studi evolusi ada 4 macam teori evolusi, yaitu:
  • teori evolusi unilineal,
  • multilineal,
  • universal
  • deverensial.
Di dalam istilah yang digunakan, biasanya hanya di sebutkan evolusi budaya, ada juga evolusi sosial. Lebih baik di gunakan evolusi sosial budaya karena sosial dan budaya tidak dapat dipisahkan. Contohnya, yang dimaksud sosial misalnya stratifikasi, atau misalnya berinteraksi, atau kumpulan orang-orang yang kita sebut penduduk. penduduk baru dapat dikatakan masyarakat bila ada interaksi, kerjasama, bisa konflik, itu yang disebut sosial. Tetapi bagaimana cara bergaul, ada aturan yang mengatur setiap orang baik dalam interaksi setara maupun berstruktur. Demikian pula dengan kata-kata yang akan diucapkan ada aturannya. Jadi sosial dan budaya tidak dapat dipisahkan. Budaya merupakan fahamnya, sosial adalah perilakunya. Kalau hanya kita sebut budaya, itu berarti tidak ada dibumikan, tidak diakarkan. Bisakah kita meyakinkan orang hanya dengan faham, harus dengan praktek. Praktek merupakan sosial. Demikian pula dengan sosial, yang tidak dapat dipisahkan dengan budaya. Binatang juga bersosial, bantu-membantu tetapi tidak tidak berbudaya karena bagi hewan, berkelompok, bekerjasama, membuat sarang merupakan insting, bukan budaya. Kalau orang mengatakan inikan bahasa, inikan keyakinan, tidak ada sosialnya, hanya budaya. Tetapi keyakinan inikah yang kita ajarkan, lalu kita praktekkan bersama dan bukan satu orang. Seperti misalnya agama, bukan wahyunya yang menjadi persoalan. Wahyu tidak dapat diganggu gugat, tetapi wahyu itu harus dienkulturasi, diajarkan kepada orang. Jadi, itu namanya membumikan agama, maksudnya dipraktekkan. Nah yang menerima pertama adalah otak, misalnya dalam islam Iqra, bacalah lalu dipahami. Setelah dibaca tidak lengkap apabila tidak diamalkan, disosialkan. Jadi turunnya itu melalui tahap. Tahap pembudayaan, dimasukkan dalam keyakinan, keimanan, baru kemudian diperktekkan lagi dalam bentuk ibadah, upacara dsb, dan itulah sosialnya karena diperktekkan seara bersama-sama. Oleh karena itu harus dipadukan keduanya. Namun dari segi struktur susunan akan terdengar kurang pas bila dikatakan budaya sosial, lebih baik menggunakan sosial budaya kalau mengacu pada fenomena itu. Kalau budaya sosial maksudnya kita mencoba-coba membudayakan sosial itu, cara bergaul dibudayakan, atau cara bersosial dari eropa atau dari timur yang akan kita terapkan atau budayakan. Memang dalam berbagai tulisan ada yang dikatakan evolusi sosial, misalnya teori tentang keluarga dari matrilineal, patrilineal kemudian ke parental. Tetapi pada dasarnya ia adalah budaya karena ada aturan yang mengatur. Demikian pula dengan teori evolusi religi atau keyakinan. Mulai dari animisme, dinamisme, politeisme dan monoteisme. Tetapi tetap saja menyangkut budaya meskipun dia merupakan keyakinan. Sebabnya ialah karena ia diperaktekkan dalam bentuk berbagai kegiatan ritual, yang melibatkan orang-orang

0 comments:

Post a Comment

 

Skripsi KITA

Site Info

Antropologi, Budaya dan Sejarah Copyright © 2010 Akran Mogerz is Designed by Akran Mogerz for About Me